AR-RAQIIM = KH1DIR Yang Tetap Hidup

Sang pemeran utama dalam kisah-kisah surat Al-Kahfi.

Pada tahun 1950an telah ditemukan 900 lebih manuskrip kuno dalam 11 gua di Palestina. Manuskrip yang berusia ribuan tahun itu diberi julukan Naskah laut mati. Selain ada teks surat-surat dari kitab suci terdahulu, ia juga memuat penjelasan yang ditulis oleh kaum Eseni sebagai pengikut setia Nabi Isa yang hidup di fase zaman mendekati Ashabul-Kahfi.

Di antara kandungan manuskrip itu, ada yang menarik para pengamat soal Reqem (Raqiim) yang muncul dalam lembaran kuno itu. Dan sebagaimana kata itu juga sudah tidak asing bagi para pengikut Taurat dan Injil. Mereka pada umumnya menafsirkan Reqem sebagai; 1. Seorang Raja Madyan yang dibunuh oleh Bani Israil. 2. Putra Hebron cucu Levi dan ayah dari Shammai. 3. Mannasit putra Machir. Nyata dalam ketiga pandangan tersebut, Reqem merujuk ke sosok manusia, sementara ada juga pendapat yang menyatakan bahwa Reqem adalah nama sebuah kota di Benjamin yang kini tidak ditemukan.

Dalam Al-Qur’an, kata Raqiim/Reqem itu disebut dalam surat Al-Kahfi yang identik dengan suatu keajaiban.

Ketika Surat Al-Kahfi hendak mengungkap kisah-kisahnya, ia memulai dengan suatu pertanyaan di ayat ke 9;

أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَٰبَ ٱلْكَهْفِ وَٱلرَّقِيمِ كَانُوا۟ مِنْ ءَايَٰتِنَا عَجَبًا

Apakah kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan Ar-raqim itu, termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang ajaib?

Tentunya setiap penulis yang handal, saat menuangkan beberapa kisah  dalam 1 bab khusus, pasti setidaknya ada ikatan antara kisah yang saling berhubung. Apalagi Al-Qur’an sebagai Kitab Suci, maka pasti hal yang ditanyakan di ayat 9 sebagai prolog tersebut akan berhubungan dengan kisah-kisah yang diungkap dalam bingkai Surat ke 18 itu.

Silahkan buka khazanah kitab-kitab tafsir dari berbagai mazhab dan carilah makna yang dimaksud dari Ar-Raqiim. Maka kita akan temukan yang tercantum dalam kitab-kitab itu bahwa Ar-raqiim diartikan sebagai salah satu dari 3 makna berikut:

1. Nama kota tempat menetapnya Ashabulkahfi. Walau kota yang berada di Jordania itu dalam riwayat lain disebut Ar-Rajiib yang dikenal juga dengan nama Efesus atau Philadelphia.                                            2. Gunung atau tempat goa itu berada, 3. Prasasti yang dipahat di sisi goa dan mencantum nama-nama Ashabulkahfi setelah gua itu ditutup untuk mengubur mereka hidup-hidup di dalamnya oleh kerajaan.

Jikalau maknanya sesuai salah satu yang tersebut di atas, maka soal di ayat 9 tersebut akan selesai dengan tuntasnya kisah Ashabulkahfi saja, yaitu dari ayat 9 sampai 26, dan tiada hubungan kelanjutan dengan 3 kisah selanjutnya. Tentu itu menjadi aneh dan mengesankan bahwa kisah-kisah dalam Al-Kahfi itu terpotong dan seakan tiada relevansi antara satu dengan yang lain.

Anggap itu sebagai argumen pertama. Berikut ini adalah yang kedua;

Dalam ayat ke 9 tersebut ada 4 kata kunci yaitu;
Ashabul kahfi, ar-Raqiim, Ayaatuna/(Tanda-tanda Kami), Ajaib.

Ashabulkahfi tidur selama 309 tahun lalu bangkit dan “tidur” kembali. Tentu itu adalah suatu keajaiban. Namun kalau Ar-Raqiim adalah nama kota, atau gunung, atau prasasti, maka bagaimana hal itu masuk dalam kategori “tanda-tanda kami yang ajaib.”? Yakni sisi keajaiban ArRaqiim tak terjelaskan.

Argumen ketiga:

Antara kata Ashabulkahfi dan Ar-Raqiim ada huruf Waw athaf (waw penyambung). Dari segi bahasa jika Ashabulkahfi merujuk pada sosok-sosok manusia, sementara Ar-Raqiim merujuk pada benda mati, maka itu janggal dan dari sisi balaghah (sastra) kurang pas untuk disandingkan dengan para wali dari kalangan manusia yang mengalami keajaiban.

Argumen ke-empat:
Kita kembali ke makna Raqiim. Dari asal katanya ia berhubungan dengan kata Raqm yang artinya angka atau bilangan. Sebagaimana ada Ism (Nama) dan ada Musamma (subjek yang dinamakan) untuk segala hal. Begitupula ada Ar-Raqm (Bilangan) dan juga Ar-Raqiim (yang dimaksud dengan bilangan itu).

Dari hasil penelitian yang mencakup dekonstruksi huruf dan angka yang tersebut dalam surat ke 18 itu, kami menemukan bahwa Ar-Raqiim sebenarnya bisa kembali ke makna rahasia suatu bilangan yang juga merujuk pada sosok yang mana dia hadir bersama Ashabulkahfi namun juga lanjut hadir berperan dalam semua kisah yang tercantum dalam surat Al-Kahfi. Kehadirannya berbilang dan berulang. Tiap kisah namanya tidak disebut namun dikenal dengan julukan dan hadir dalam bilangan tertentu khususnya 110 yang sesuai dengan jumlah total ayat surat Al-Kahfi.

Ada sebuah riwayat tanabbuat yang juga dicantum dalam kitab Almufajaah menukil penjelasan dari Sayyidina Ali bahwa; “Nanti Allah akan menyatukan Ar-Raqm dan Ar-Raqiim untuk Imam Mahdi.” Yakni rahasia bilangan dan yang dimaksudnya akan menjadi jelas dengan hadirnya ekstensi sosok yang telah menjadi guru Nabi Musa dan mendampingi sang juru penyelamat akhir zaman.

Ada beberapa Argumen lain yang substansial bersandar pada isyarat ayat dan juga petunjuk bilangan dalam surat Al-Kahfi yang mengarah pada suatu kesimpulan bahwa Khidir adalah Ar-Raqiim. Beliaulah pemeran utama dalam kisah-kisah surat Al-Kahfi. Itulah yang kami coba jelaskan dengan banyak referensi perihal perannya satu persatu saat menjadi Maximilian (ketua Ashabul-Kahfi), Elya/Ilyas (yang menegur pemilik kebun anggur), Abdan min Ibadina (guru Nabi Musa), Zulqarnain (Sang Raja dunia), Melkisedek dan St George dalam bab ke-enam buku karya kami yang berjudul Misteri Al-Kahfi dan Khidir.

Jika ada sekelompok makhluk yang hidup hampir abadi seperti para malaikat dan juga  Iblis dari golongan jin, maka wajarlah kalau dari golongan manusia juga ada yang Allah tugaskan untuk menolong sesamanya.

Buku telah terbit pada Dec 2022. Bisa pesan via distributor online.

Posted

in

by

Comments

Leave a comment