Al-Jifr (الجفر) / yang dalam bahasa Arab modern juga disebut شفر / Cipher telah menjadi sebuah istilah yang digunakan oleh para ilmuwan timur dan barat tentang suatu ilmu praktis yang berguna untuk mendekode kata dan angka yang terhimpun dalam sebuah kalimat.
Sebelumnya baiklah kita tengok dahulu definisi yang ada pada umumnya lalu kita lihat bagaimana ilmu Aljifr yang asal asul kata istilah itu menunjukkan bahwa ia tidak mungkin lahir kecuali dari sosok Nabi yang sudah memahami seluruh kata dan angka yang tersusun dalam Kitab suci Al-Qur’an.
Kalau kita cari tentang definisi Al-jifr, baik dalam kitab-kitab ataupun di artikel-artikel yang tersebar di web, maka kita akan temukan bahwa penjelasan definisinya banyak kembali kepada sebuah kitab yang masih diperdebatkan soal keberadaan dan sosok penulis aslinya. Ada yang mengatakan bahwa Al-Jifr adalah sebuah Kitab yang ditulis oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib dari pelajaran khusus yang diperolehnya secara langsung dari Rasulullah Saw tentang ilmu masa lampau dan masa datang hingga akhir zaman. Kitab itu menurut sejarawan ditulis di kulit kerbau. Keberadaanya juga sudah tidak ditemukan.
Sebagian menisbatkan penulisan kitab tersebut kepada Imam Ja’far Al-Shadiq, yaitu keturunan ke 5 dari Nabi Muhammad yang mana beliau adalah datuknya mayoritas Habaib yang banyak hidup di Hijaz, Irak, Yaman, Arab Teluk, Persia, Asia Tenggara bil khusus Nusantara.
Ada sebuah riwayat dari seorang Abu Ubaydah yang hidup di abad ke 2 Hijriyah bahwa ada yang pernah bertanya kepada Imam Ja’far As-Shadiq tentang Al-jifr dan beliau menjawab; “ia adalah sebuah kulit kerbau yang penuh dengan ilmu.”[1]
Dikatakan juga bahwa Al-Jifr adalah Ilmu yang dikuasai oleh keluarga Nabi Muhammad (Ahlul Bayt) sebagai warisan Sang Nabi dan tersusun dalam empat kitab: Al-Jifr Al-Abyadh (Jifr Putih), Al-jifr Al-Aswad (Jifr Hitam), Al-Jifr Al-Ahmar, dan Al-Jifr Al-Jami’ (Jifr Lengkap). Empat kitab itu masing-masingnya punya subjek yang berbeda. Ada yang mengenai medis, mengenai amalan bacaan dan mujarobat, mengenai persenjataan super canggih, dan mengenai masa depan. Namun yang sering menjadi buah bibir sejarah adalah Al-Jifr Al-Jami’ yaitu yang lengkap. Menurut sebagian ulama, Jifr lengkap itu hanya dipegang oleh Wali Qutub secara turun temurun.
Pada abad-abad selanjutnya ada banyak kitab yang ditulis menggunakan awal judulnya dengan kata Al-jifr. Yaitu yang menggunakan disiplin ilmu tersebut untuk Mujarobat, Talasim, ajimat wafaq, Nujuman falak, dan juga mengungkap perihal alam gaib dan tanabuat ramalan atau eskatologi tentang segenap peristiwa penting yang akan terjadi. Seperti yang disusun oleh Syaikh Ali Asyur dan Muhammad Abul Azaim seorang ulama asal Mesir yang hidup di awal abad 18 Masehi.
Mungkin karena yang lumrah hadir di kalangan masyarakat masa itu adalah yang subjeknya semacam itu, maka tidak heran kalau definisi Al-jifr dianggap sebagai kitab yang membahas tentang hal-hal tersebut sehingga seringkali definisinya jadi merosot dan salah fokus pada buku -buku ramalan.
Annemarie Schimmel dalam bukunya Dimensi Mistik Dalam Islam menjelaskan bahwa, “Jafr merupakan perenungan mengenai peristiwa-peristiwa yang lampau dan yang akan datang berdasarkan gabungan kata. Hal itu sering merosot menjadi semacam nujuman. Dengan menghitung jumlah kata dalam satu halaman Al-Qur’an dan menghitung nilai angkanya. Setiap huruf dalam Abjad Arab memiliki nilai angka – orang dapat menggambarkan nama dan tempat. Cara yang sama ditempuh juga oleh sejumlah kaum Kabal Kristen yang mengusut peristiwa sejarah dalam kata-kata dan angka yang terdapat dalam Injil, terutama kitab wahyu.”
Tidak sedikit juga ulama yang menggunakan disiplin ilmu Jifr untuk mempelajari tafsir-Al-Qur’an dan menyingkap suatu hakikat atau setidaknya dapat menghubungkan antara konsep pemahaman (Mafahim/Shuar) dan realita alamnya (Mishdaq) wujud luarnya.
Sebagian para ilmuwan agung seperti Jabir Ibn Hayyan, Muhyiddin Ibn Arabi, Ibnu Sina, Mansour Al-Hallaj, Muhammad Bahauddin, Syaikh Sadruddin, Abu Masy’ar Al-falaki, Sayyid Al-Qadhi, dan Ahmad bin Ali Al-Buni, telah menggunakan disiplin ilmu Jifr dan melahirkan penemuan dan karya besar dalam banyak bidang keilmuan yang bukan hanya memperkaya pemahaman kalam, tetapi juga soal Ilmu science fisika, filsafat, matematika, epistmology ilmu huruf, tasawuf, astronomy, astrology, geometri dan seterusnya yang berkembang jauh hari sebelum Einstein menyimpulkan relatifitas waktu dan Nicola Tesla menemukan keajaiban energy dan daya listrik.
Sayangnya karena faktor pergolakan politik, penjajahan, dan fanatisme kemazahaban, banyak sekali karya-karya para ilmuwan muslim yang agung telah hilang dan tak berkembang kecuali sedikit yang tersisa. Termasuk segala kitab tentang disiplin ilmu Huruf dan Jafr yang sudah berabad-abad tidak berkembang dan hampir punah karena sudah tiada yang belajar dan mengajarkannya lagi. Jadi mungkin bisa dimaklumi kalau banyak penelaah yang rancu dalam mendefinisikan.
Oleh karenanya pemahaman soal Aljafr memang perlu ditinjau ulang. Kami merasa penting untuk menulis soal ini supaya kita bisa mendapat definisi yang tepat dan tidak dzalim terhadap ilmu yang agung tersebut.
Sebagai contoh; kalau ada yang bertanya apa itu ilmu arsitek? Ada yang menjawabnya bahwa itu adalah sebuah rumah yang dibangun oleh X dan berada di negara Y di abad sekian dan sekian. Tentu definisi itu salah fokus dan termasuk dzalim terhadap ilmu arsitek. Karena arsitek adalah suatu ilmu yang luas, penuh seni, berguna dalam proses perencanaan dan perancangan konstruksi ruang bagi yang ingin membangun bukan hanya rumah tetapi segala macam bangunan dan infra struktur dengan baik dan sehat. Dia adalah ilmu yang membutuhkan penguasaan atas beberapa ilmu lain seperti matematika, fisika, dan geology yang kesemuanya terus berkembang dan dipelajari. Yah seperti itulah yang kita saksikan dalam pendefinisian yang ada terhadap Al-jifr saat ini. Jadi sangatlah penting bagi kita untuk meluruskan definisinya dan menjelaskan asal-usul lahirnya istilah itu.
Jafr/Jifr adalah kata yang lahir dari proses cryptography nilai kata Al-Qur’an. Kadang disebut dengan fathah huruf awal (Jafr) yang berarti Algoritme. Kata Jifr telah diadopsi dan digunakan dalam bahasa latin Cipher. Dalam bahasa Arab modern memakai huruf Syin menjadi Syafr dan Tasyfir ( شفر تشفير ) yang berarti Encrypt, Dekoding atau Decipher.
Sebenarnya Jifr adalah suatu disiplin ilmu yang memuat banyak rumus dengan tingkatan metode teknis yang berguna bagi para ilmuwan untuk bisa mendalami ma’rifat Al-Qur’an dan memahami sisi dzahir dan batin ayat-ayat sucinya. Kalau menurut riwayat dinyatakan bahwa setiap ayat suci Al-Qur’an mempunyai 70 makna dzahir dan 70 makna batin, maka Aljifr adalah ilmu yang sangat berguna untuk menyelaminya.
Subjek utama ilmu Jifr itu adalah huruf dan nilai-nilainya yang disertai dengan metode-metode khusus untuk mengupas kandungan dan hakikat tiap ayat suci.
Sekarang mari kita coba jifr-kan kata Al-Qur’an itu sendiri lalu kita lihat hasilnya:
Jika kita hitung nilai Kata Al-Qur’an القرآن dengan nilai standar Abjad:
ا ل ق ر آ ن
1 + 30 + 100 + 200 + 1 + 50 = 382
3 =ج, 8 =ف,2 =ر
Ajaibnya juga, kalau kita hitung jumlah kata Ayat ( ا ي ت ) dengan segala bentuk variannya dalam Al-Qur’an, dan kita ricek dari kitab index Al-Mu’jam Al-Mufahras maka akan kita temukan bahwa jumlah kata Ayat disebut 382 kali.
Lebih dalam lagi, kalau kita cari dan hitung semua angka (bilangan asli) yang disebut dalam Al-Qur’an, angka yang dimaksud seperti satu, dua, tiga) ( واحد اثنين ثلاثة اربعة dan bukan bilangan seperti pertama, kedua, ketiga ( اول ثاني ثالث ) dan seterusnya yang bersifat urutan ataupun pecahan ( ( ثلث ربع خمس maka totalnya ada 30 jenis Angka yang disebut, yaitu:
Angka satu (1) disebut 145 x. Angka dua: 15 x. Angka tiga 17 x. Angka 4 = 12 x. 5 = 2 x, 6 = 7 x, 7 = 24 x, 8 = 5 x, 9 = 4 x, 10 = 9 x, 11 = 1 x, 12 = 5 x, 19 = 1 x, 20: 1 x. 30: 2 x, 40: 4 x, 50: 1 x, 60: 1 x, 70: 3 x, 80: 1 x, 99: 1 x, 100: 6 x, 200: 2 x, 300: 1 x, 1000: 8 x, 2000: 1 x, 3000: 1 x, 5000: 1 x. 50.000: 1 x, 100.000: 1x.
Dari 30 jenis angka yang disebut itu jumlah total penyebutan semuanya menjadi 283 x.[2]
2 8 3 adalah persis kata Jifr itu sendiri namun dalam bentuk pola. Yakni seperti ini:
ج ف ر
2 8 3
Selain itu, ada 10 ayat di 9 surat dalam Al-Qur’an[3] yang memuat kata menghitung. Ayat-ayat tersebut adalah sebagai berikut:
بسم الله الرحمن الرحيم
وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
Dia telah menganugerahkan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat zalim lagi sangat kufur. (QS: 14. Ibrāhim: 34)
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS: 16. An-Naḥl: 18)
ثُمَّ بَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَىٰ لِمَا لَبِثُوا أَمَدًا
Kemudian Kami bangunkan mereka supaya Kami mengetahui manakah di antara dua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu). (QS 18. Al-Kahf: 12)
وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا
Diletakkanlah kitab (catatan amal pada setiap orang), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya. Mereka berkata, “Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak meninggalkan yang kecil dan yang besar, kecuali mencatatnya.” Mereka mendapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Tuhanmu tidak menzalimi seorang pun. (QS 18. Al-Kahf: 49)
لَقَدْ أَحْصَاهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدًّا
Sungguh, Dia (Allah) benar-benar telah menentukan jumlah mereka dan menghitungnya dengan teliti. (QS 19. Maryam: 94).
إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ
Sesungguhnya Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati dan Kami (pulalah) yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab induk yang nyata. (QS 36. Yāsin: 12)
يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا ۚ أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
Pada hari itu Allah membangkitkan mereka semua, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah menghitungnya (semua amal) meskipun mereka telah melupakannya. Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. (QS 58. Al-Mujādalah: 6)
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحْصُوا الْعِدَّةَ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ ۖ لَا تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ وَلَا يَخْرُجْنَ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ ۚ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ ۚ لَا تَدْرِي لَعَلَّ اللَّهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذَٰلِكَ أَمْرًا
Wahai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu, hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar), dan hitunglah waktu idah itu, serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumahnya dan janganlah (diizinkan) keluar kecuali jika mereka mengerjakan perbuatan keji yang jelas. Itulah hukum-hukum Allah. Siapa melanggar hukum-hukum Allah, maka sungguh, dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui boleh jadi setelah itu Allah mengadakan suatu ketentuan yang baru. (QS 65. Aṭ-Ṭalāq: 1)
لِيَعْلَمَ أَنْ قَدْ أَبْلَغُوا رِسَالَاتِ رَبِّهِمْ وَأَحَاطَ بِمَا لَدَيْهِمْ وَأَحْصَىٰ كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًا
(Yang demikian itu) agar Dia mengetahui bahwa (rasul-rasul itu) benar-benar telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedangkan (ilmu-Nya) meliputi apa yang ada pada mereka. Dia menghitung segala sesuatu satu per satu.
(QS 72. Al-Jinn: 28)
وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَابًا
Segala sesuatu telah Kami catat dalam kitab (catatan amal manusia).
| Mahasuci Allah! |
(QS 78. An-Naba: 29)
Mari kita hitung dan jumlahkan urutan ayat-ayat tersebut lalu kita lihat berapa jumlah totalnya:
34 + 18 + 12 + 49 + 94 + 12 + 6 + 1 + 28 + 29 = 283
Selain itu juga, 30 angka yang yang tersebut itu juga selaras dengan jumlah Juz (Bagian) dalam Al-Qurán, yaitu 30. Selaras pula halnya dengan surat Al-Qadr yang menjelaskan tentang turunnya Al-Qurán tersusun dengan 30 kata, dan 114 huruf. Sebagaimana dalam Al-Qurán ada 30 Juz dan 114 surat.
Ada lagi yang menarik; telah kita pahami bahwa kata Jifr itu lahir dari cryptography kata Al-Qur’an berikut mukjizat ayat-ayat yang menyebut angka di dalamnya, maka sekarang kita coba hitung jumlah nilai kesatuan Nama kedua orang tua Nabi Muhammad SAW, sebagai pasangan yang dari mereka lahir sosok sang Pembawa Al-Qurán:
عبد الله & امنه
ع 70 ب 2 د 4 ا 1 ل 30 ل 30 ه 5 = 142
ا 1 م 40 ن 50 ه 5 = 96 =
142 + 96 = 238
Ternyata hasilnya juga tersusun dari 3 jenis angka yang sama dan mempunyai kandungan batin yang sangat berhubungan dan tak terpisahkan dengan Al-Qur’an. Algoritmanya akan menjadi suatu kesatuan mukjizat.
Tentu kita bisa pastikan bahwa istilah kata Jifr bukanlah sembarang kata yang lahir begitu saja lalu menjadi populer melintas bangsa dan bahasa.
Setelah melihat satu sisi keagungan mukjizat Al-Qur’an seperti yang telah dikemukakan di atas, tentunya kita bisa mengambil kesimpulan bahwa istilah Al-Jifr itu pasti lahir dari sosok yang sudah memahami Kitab Al-Qur’an sepenuhnya di abad yang jauh sebelum adanya internet ataupun kalkulator. Jadi sangatlah wajar kalau Syaikh Ibn Arabi menyatakan bahwa ilmu Aljifr adalah ilmu yang diajarkan oleh Nabi Muhammad kepada Ali bin Abi Thalib,” karena bahkan istilahnya saja adalah suatu rahasia hasil algoritme kata dan ayat-ayat Al-Qur’an itu sendiri.
“Sesungguhnya Rasulullah telah mengajarkanku seribu huruf, dan dari tiap hurufnya menyingkap seribu huruf lain.”[4] Sayyidina Ali bin Abi Thalib.
Sekian dahulu, semoga buku ini bisa bermanfaat sehingga kita bisa merasakan mukjizat Syahadatain dan meraih cahaya Al-Qur’an dan Syafaat Rasulullah SAW. Mohon doa agar kami dipanjangkan umur dalam sehat afiat untuk bisa mempelajari lebih lanjut dan mengkaji lebih dalam sehingga bisa berbagi lebih banyak dan hidup kita diberkati oleh Allah.
Wabillahit tawfiiq wal hidayah was-salaamu alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh.
[1] بصاءر الدرجات ج 1
[2] Membutuhkan satu buku khusus untuk memuat keseluruhan 283 ayat tersebut beserta rahasia Jifr tiap ayatnya yang kan menyingkap mukjizatnya masing-masing.
[3] Ada korelasinya dengan keajaiban ayat 30 surat Al-Mudatssir yang menyebut angka 19. Selain 10 ayat dalam 9 surat tersebut ada 1 ayat lain yang menggunakan kata لن تحصوه yaitu dalam akhir surat Al-Muzammil namun para mufassir mengartikan kata itu dengan makna (kalian takkan sanggup). Kalau dalam terjemahan Al-Qur’an bahasa Indonesia diartikan (takkan bisa menentukan batas waktu) dan bukan makna menghitung atau konteks hitungan. Hal itu juga dikuatkan oleh pendapat hasil riset seorang hafiz dan peneliti Al-Qur’an sepeti Dr Ahmad Zain Al-Mannawi.
[4] Dalam riwayat lain dan dalam kesempatan berbeda disebut ‘seribu bab’.
Tulisan di atas sudah terbit tahun 2022 dalam buku kami yang berjudul Algoritme Syahadat .


Leave a comment